Meneropong realita: peran jurnalis terhadap kredibilitas VS kecepatan dalam membangun Karya kebangsaan Jurnalis Mahasiswa di Era Society 5.0

peran jurnalis terhadap kredibilitas VS kecepatan dalam membangun Karya kebangsaan Jurnalis Mahasiswa di Era Society 5.0

Meneropong realita: peran jurnalis terhadap kredibilitas VS kecepatan dalam membangun Karya kebangsaan Jurnalis Mahasiswa di Era Society 5.0
menggambarkan peran jurnalis dalam menyeimbangkan kredibilitas dan kecepatan di era Society 5.0, dengan sentuhan simbolik keterlibatan mahasiswa dalam membangun karya kebangsaan.

Meneropong realita: peran jurnalis terhadap kredibilitas VS kecepatan dalam membangun Karya kebangsaan Jurnalis Mahasiswa di Era Society 5.0

Era Society 5.0 merupakan suatu konsep yang diperkenalkan oleh pemerintah jepang untuk menjawab berbagai tantangan sosial dengan memanfaatkan teknologi-teknologi metakhir seperti kecerdasan buatan (AI), internet of thing (oiT), big data, dan robotika. Di mana teknologi digital dan fisik terintegrasi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Adanya era digital seperti sekarang ini tentu memunculkan banyak tantangan dan peluang besar bagi jurnalis warga termasuk jurnalis mahasiswa.

Sebagai mahasiswa yang kritis dan intelektual, tentunya kita memiliki peran strategis dalam menghadapi realita baru dengan mengusung karya-karya yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga aktual, kredibilitas, bertanggung jawab dan berdaya guna dalam membangun semangat kebangsaan.  Namun, dalam menjalankan peran ini, mereka dihadapkan pada dilema besar: kredibilitas VS kecepatan.

Gambar 1: di lansir dari researchgate

Dari gambar di atas, Transformasi dari era Society 4.0 ke Society 5.0 telah mengubah secara signifikan bagaimana informasi didapat dan disebarkan. Di era Society 4.0, jurnalis masih bergantung pada proses manual dalam mengumpulkan data dan menyebarkan berita, meskipun teknologi sudah mulai digunakan untuk mempercepat distribusi informasi. Namun, dengan hadirnya Society 5.0, jurnalis kini memiliki akses lebih luas terhadap teknologi yang memungkinkan mereka untuk mengolah informasi lebih cepat, selain itu memungkinkan jurnalis untuk menyesuaikan informasi dengan preferensi audiens secara personal.

 

Kecepatan VS Kredibilitas: Dua sisi mata uang jurnalisme di era digital

Kecepatan merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi jurnalis di era digital. Dalam upaya untuk mendapatkan perhatian pembaca, realitanya banyak media cenderung mengutamakan kecepatan daripada memeriksa fakta atau memastikan kebenaran berita.  Dalam memperoleh dan menyebarkan informasi menjadi suatu kebutuhan dalam dunia jurnalistik modern, terutama dengan adanya media sosial yang memungkinkan berita menyebar dalam hitungan detik. Namun, dalam upaya mengejar kecepatan, seringkali informasi yang disampaikan tidak terverifikasi dengan baik, mengarah pada hoaks, distorsi, atau opini yang bias. Selain itu berpotensi mengorbankan akurasi, kedalaman, dan konteks informasi yang disampaikan.

Untuk menjaga keakuratan berita, jurnalis dapat menggunakan teknologi seperti Google Fact Check dan aplikasi pengenalan wajah untuk memeriksa dan memverifikasi kebenaran berita sebelum melaporkannya ke public.

Dalam hal ini media sosial dan platform digital telah menjadi alat utama dalam mempercepat penyebaran informasi hoaks, diantaranya gangguan informasi seperti misinformasi, disinformasi dan malinformasi. Disinformasi, yaitu penyebaran informasi palsu yang disengaja untuk menyesatkan, sering kali memanfaatkan kecepatan media sosial untuk menciptakan kekacauan atau memengaruhi opini publik. Misinformasi, yakni penyebaran informasi yang salah tanpa niat jahat, juga semakin marak karena banyak pengguna, termasuk jurnalis pemula, tergesa-gesa menyampaikan berita tanpa verifikasi memadai. Sementara itu, malinformasi, yaitu informasi yang benar tetapi disampaikan dengan niat merugikan, juga dapat merusak reputasi individu atau kelompok tertentu. Dalam konteks ini, kecepatan penyebaran sering kali mengalahkan akurasi, sehingga informasi yang salah dapat beredar luas sebelum ada koreksi.

Kredibilitas adalah tingkat kepercayaan pembaca terhadap informasi yang disajikan oleh suatu sumber berita. Dalam konteks ini, merujuk pada kualitas dan akurasi informasi yang disampaikan. Kredibilitas berita yang baik ditandai dengan: Informasi yang dapat dipercaya, Kesalahan yang tidak fatal dan banyak, Sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, juga berkaitan dengan keyakinan masyarakat terhadap integritas, kejujuran, dan profesionalisme penyedia berita.

Di sinilah peran jurnalis mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa harus memahami bahwa Karya jurnalistik mereka harus mencerminkan kedalaman analisis, penelitian yang teliti, serta komitmen untuk kebenaran. Kredibilitas ini menjadi tonggak dalam membangun semangat kebangsaan yang sehat, menciptakan masyarakat yang lebih informatif dan berwawasan luas. Dengan mengandalkan sumber terpercaya, melakukan konfirmasi dengan pihak-pihak terkait, dan memanfaatkan teknologi verifikasi adalah langkah esensial untuk menjaga kualitas berita. Kode etik jurnalistik juga harus tetap menjadi landasan utama, dengan mengutamakan kebenaran daripada sekadar menjadi yang tercepat. Lebih jauh, mahasiswa perlu memiliki kesadaran bahwa menjaga integritas jurnalistik adalah wujud kontribusi mereka dalam membangun semangat kebangsaan yang sehat dan berwawasan luas. Dengan demikian, karya jurnalistik yang mereka ciptakan tidak hanya cepat, tetapi juga dapat dipercaya dan berdampak positif bagi masyarakat.

 

Konteks mahasiswa

Jurnalis mahasiswa memiliki peran strategis dalam membangun moderasi beragama yang menjadi fondasi penting dalam mencegah kekerasan, ekstremisme, dan terorisme. Dalam konteks kampus, peran ini menjadi sangat vital karena kampus adalah ruang intelektual yang seharusnya menjadi tempat dialog sehat, penguatan toleransi, dan penyebaran nilai-nilai kebangsaan. Melalui karya jurnalistik, mahasiswa dapat menciptakan narasi yang mendorong persatuan, mengedukasi publik tentang pentingnya moderasi beragama, dan menolak segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Di tingkat kampus, jurnalis mahasiswa dapat memanfaatkan media internal seperti buletin kampus, majalah, atau platform digital untuk mengangkat isu-isu yang mendorong dialog lintas agama dan budaya. Mereka bisa menulis liputan tentang kegiatan yang memperkuat kerukunan beragama, menampilkan tokoh-tokoh inspiratif yang mengedepankan toleransi, serta mengkritisi secara objektif tindakan intoleransi yang merusak harmoni sosial. Melalui pendekatan ini, jurnalis mahasiswa tidak hanya menjadi penyampai berita, tetapi juga agen perubahan yang memperkuat moderasi beragama.

Dalam skala regional, jurnalis mahasiswa dapat memperluas jangkauan dengan menjalin kerja sama dengan media lokal atau komunitas lintas kampus. Melalui kolaborasi ini, mereka dapat membangun jaringan pemberitaan yang mendorong cinta kebangsaan dan memperkuat solidaritas sosial. Misalnya, mereka dapat memproduksi konten tentang kisah-kisah toleransi di daerah yang menjadi contoh nyata kerukunan, atau mengadakan diskusi publik yang menghadirkan berbagai perspektif agama untuk melawan narasi kekerasan dan ekstremisme.

Selain itu, peran jurnalis mahasiswa dalam mencegah terorisme tidak hanya sebatas peliputan, tetapi juga membangun literasi digital. Mereka dapat berperan aktif dalam menangkal disinformasi dan propaganda radikalisme yang sering beredar di media sosial. Melalui tulisan yang mendalam, analisis kritis, dan penggunaan data yang valid, jurnalis mahasiswa dapat membongkar narasi kebencian yang sering digunakan kelompok ekstremis untuk merekrut anggota baru.

Dengan mengedepankan prinsip jurnalisme yang kredibel, berimbang, dan berbasis pada fakta, jurnalis mahasiswa dapat berkontribusi besar dalam memperkuat moderasi beragama, menolak kekerasan, dan menanamkan cinta kebangsaan. Mereka tidak hanya berperan sebagai pengamat, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan yang berkomitmen untuk menciptakan masyarakat yang damai, toleran, dan harmonis. Ini adalah tugas mulia yang sejalan dengan semangat kebangsaan dan tanggung jawab intelektual yang harus diemban oleh setiap jurnalis muda.

Mahasiswa juga memiliki peran dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang berpotensi merusak persatuan. Pada akhirnya, peran mahasiswa dalam memperkuat persatuan kebangsaan tidak hanya terbatas pada kegiatan akademis atau organisasi, tetapi juga pada kemampuan mereka untuk menjadi teladan dalam menyebarkan sikap inklusif, toleran, dan cinta tanah air. Dengan kesadaran tersebut, mahasiswa dapat menjadi pilar utama dalam membangun bangsa yang lebih solid, sejahtera, dan berdaya saing di era society 5.0.

Dalam menghadapi tantangan di era society 5.0, semestinya harus lebih kreatif dalam menyajikan berita yang dapat meredakan ketegangan dan mempromosikan nilai-nilai damai. Misalnya, menggunakan platform digital untuk menyebarkan kampanye anti-kekerasan dan anti-terorisme, serta menampilkan kisah-kisah keberagaman yang memperlihatkan bahwa cinta kebangsaan adalah kunci untuk menghadapi tantangan global. Selain itu, harus berperan sebagai penyaring informasi, membedakan mana yang fakta dan mana yang hoaks, serta memastikan bahwa berita yang kita sebarkan tidak memperburuk situasi.

Bagi generasi muda, karya jurnalistik mahasiswa yang kredibel dan tepat waktu dapat menjadi inspirasi yang besar. Mereka akan belajar untuk lebih berhati-hati dalam menerima informasi, serta mengutamakan keakuratan daripada sekadar kecepatan. Di sisi lain, karya yang cepat namun kurang kredibel bisa mempengaruhi pola pikir dan kepercayaan generasi muda terhadap media. Maka dari itu, karya jurnalis mahasiswa di era Society 5.0 harus mencerminkan kemampuan mereka untuk menavigasi antara kebutuhan untuk cepat dan tanggung jawab untuk menjaga integritas informasi. Keseimbangan ini, jika berhasil dicapai, tidak hanya akan menghasilkan karya jurnalistik yang bermanfaat, tetapi juga akan menginspirasi generasi muda untuk berpikir kritis, cermat dalam menerima informasi, dan terlibat secara aktif dalam menciptakan dunia informasi yang lebih baik.

Karya-karya tersebut memiliki peran penting dalam memperkuat kerukunan berbangsa dan bernegara. Sebagai generasi muda yang tumbuh di tengah dinamika sosial, politik, dan budaya yang terus berkembang, jurnalis mahasiswa memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk opini publik yang sehat dan konstruktif. Karya mereka dapat menjadi media untuk mengekspresikan nilai-nilai kebangsaan, memperjuangkan keadilan, dan mengangkat isu-isu penting yang berhubungan dengan keberagaman dan persatuan.

Salah satu peran penting karya kebangsaan jurnalis mahasiswa adalah memperkenalkan dan menyebarluaskan nilai-nilai Pancasila dan semangat toleransi dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks Indonesia yang sangat majemuk, jurnalis mahasiswa dapat menggunakan karya mereka untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menghargai perbedaan, baik dalam suku, agama, maupun budaya. Melalui tulisan, laporan, atau investigasi, mereka dapat menyoroti contoh-contoh positif dari kerukunan antar kelompok masyarakat dan menginspirasi generasi muda untuk ikut serta dalam menjaga persatuan.

Selain itu, karya kebangsaan jurnalis mahasiswa juga dapat berfungsi sebagai alat untuk menyuarakan aspirasi rakyat dan menyampaikan kritik yang konstruktif terhadap kebijakan pemerintah atau isu sosial yang sedang berkembang. Dengan memanfaatkan platform digital yang ada, mereka mampu menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk generasi muda yang sering kali terpapar berbagai informasi di media sosial. Karya-karya ini dapat memperkuat kesadaran kebangsaan, serta mendorong masyarakat untuk lebih aktif berpartisipasi dalam pembangunan nasional.

Dengan demikian, karya kebangsaan jurnalis mahasiswa memiliki peran strategis dalam memperkuat kerukunan berbangsa dan bernegara. Melalui karya yang edukatif, kritis, dan konstruktif, mereka dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai tanah air, menghargai keberagaman, dan berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang damai dan sejahtera.

Strategi  mempersatukan

Teknologi yang begitu dominan telah menciptakan dunia yang lebih terfragmentasi, dengan informasi yang melimpah dan beragamnya pandangan yang dapat membingungkan identitas kebangsaan. Oleh karena itu, penting untuk merumuskan strategi yang dapat menguatkan rasa persatuan kebangsaan, baik melalui integrasi kurikulum, kegiatan kebangsaan, maupun penanaman nilai-nilai Pancasila pada mahasiswa.

1.      Integrasi Kurikulum dengan Materi Kebangsaan: Salah satu langkah yang efektif untuk memperkuat persatuan kebangsaan di kalangan mahasiswa adalah dengan mengintegrasikan materi kebangsaan dalam kurikulum pendidikan. Mata kuliah yang tidak hanya berfokus pada disiplin ilmu tertentu, tetapi juga mengajarkan tentang sejarah, budaya, dan nilai-nilai kebangsaan, seperti Pancasila, dapat membantu mahasiswa memahami pentingnya menjaga persatuan dalam keragaman. Kurikulum ini harus relevan dengan tantangan zaman, seperti memahami moderasi beragama, pluralisme, serta pentingnya toleransi dan saling menghargai. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mendapatkan ilmu akademis, tetapi juga wawasan yang mendalam tentang bagaimana menjaga persatuan dan mengatasi perbedaan di tengah kemajuan teknologi.

2.      Mengadakan Kegiatan yang Bertema Kebangsaan: Kegiatan ekstrakurikuler yang berfokus pada kebangsaan juga menjadi salah satu strategi efektif untuk membangun rasa persatuan. Misalnya, diskusi atau seminar tentang sejarah Indonesia, kebudayaan lokal, atau isu-isu kebangsaan terkini dapat mempererat hubungan antar mahasiswa dari berbagai latar belakang. Kegiatan ini bisa menjadi platform untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, serta mendorong mahasiswa untuk lebih aktif berperan dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan toleran. Selain itu, kegiatan berbasis kebangsaan, seperti peringatan hari besar nasional atau bakti sosial, dapat menjadi ajang untuk memperkuat semangat gotong-royong, yang merupakan nilai penting dalam membangun persatuan.

3.      Menanamkan Kembali Nilai-Nilai Pancasila pada Mahasiswa: Pancasila sebagai dasar negara memiliki peran vital dalam memperkuat kebangsaan, terutama dalam menciptakan rasa persatuan di tengah keberagaman. Penanaman kembali nilai-nilai Pancasila melalui berbagai cara, seperti dalam kuliah umum, diskusi, dan penguatan program studi yang berkaitan dengan Pancasila, sangat diperlukan untuk generasi muda. Dengan memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila, mahasiswa dapat lebih mudah menanggulangi ancaman-ancaman terhadap kebangsaan, seperti intoleransi, ekstremisme, dan radikalisasi. Pancasila mengajarkan pentingnya saling menghormati, gotong royong, dan keadilan sosial—nilai-nilai yang menjadi fondasi dalam membangun persatuan bangsa.

Dengan demikian, karya jurnalis mahasiswa di era Society 5.0 memiliki peran yang sangat besar dalam membangun semangat kebangsaan. Melalui karya yang edukatif, konstruktif, dan berbasis pada nilai-nilai kebangsaan, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang memperkuat persatuan di tengah keberagaman. Integrasi kurikulum yang menekankan kebangsaan, kegiatan yang mendukung dialog antar budaya, serta penanaman nilai-nilai Pancasila melalui jurnalistik adalah strategi-strategi yang relevan untuk menjawab tantangan zaman. Sebagai generasi muda, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menjadi ahli di bidangnya, tetapi juga pemimpin yang mampu menjaga dan memperkuat kebangsaan di era digital ini.