BENCANA ALAM DAN SOLIDARITAS "YANG MELAMPAUI"

BENCANA ALAM DAN SOLDARITAS "YANG MELAMPAUI"

BENCANA ALAM DAN SOLIDARITAS "YANG MELAMPAUI"

BENCANA ALAM DAN SOLIDARITAS “YANG MELAMPAUI”

 

Ketua Laznas Syarikat Islam, David Chalik bersama tim saat menyerahkan bantuan ke pengungsian warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki/Ist (Republik Merdeka)

 

Letusan gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 4 November 2024 menjadi headline news baik media massa maupun media sosial. Bencana yang mengakibatkan ribuan orang mengungsi dan kehilangan rumah serta ruang interaksi sosial mereka melahirkan gerakan solidaritas seluruh lapisan masyarakat. Penggalangan dana dan bantuan kemanusiaan lainnya secara eksplisit memberikan pesan mendalam bahwa dukamu adalah duka kami dan duka kita semua.

 

Solidaritas “yang melampaui”

Dalam konteks pluralitas dan multikulturalitas bangsa Indonesia, solidaritas kemanusiaan merupakan perwujudan paling konkrit sila Kemanusiaan yang adil dan beradab dan sila persatuan Indonesia. Di tengah kemajemukan ini, gerakan solidaritas dan bantuan kemanusiaan akan semakin memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan kita sebagai suatu bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Rasa kesetiakawanan dan semangat belarasa merupakan jembatan yang mempersatukan dan mengafirmasi eksistensi kita sebagai bangsa yang plural dan multikultural. Gerakan solidaritas untuk Lewotobi merupakan solidaritas yang melampaui segala sekat primordial seperti suku, etnis, agama, ras dan golongan.

Gerakan solidaritas bagi para korban bencana alam merupakan sebuah medium perjumpaan dan dialog yang paling konkrit di tengah perbedaan yang seringkali menjadi sumber konflik dan perpecahan. Pesan kemanusiaan yang hendak diungkapkan dalam aksi solidaritas semacam itu adalah hormat pada kekudusan hidup manusia, hormat pada martabat manusia menjadi panggilan kemanusiaan kita sebagai bangsa yang berketuhanan, berperikemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan dan berkeadilan.

Solidaritas “yang melampaui” semacam ini menjadi roh yang mempersatukan dan memperkokoh eksistensi bangsa untuk saling menerima satu sama lain sebagai saudara dan saudari tanpa menegasikan orang lain dalam keberbedaannya.

Dengan demikian, toleransi dan politik pengakuan tidak hanya tinggal sebagai jargon-jargon melainkan mampu mendesak nurani kita untuk solider dan saling menerima tanpa memandang keberbedaan di antara kita. Inilah pesan kebangsaan yang paling substansial dari aksi solidaritas kita di tengah memudarnya rasa persatuan dan kesatuan sebagai suatu bangsa.

 

Jalan yang mempersatukan

Letusan gunung Lewotobi Laki-laki dan persoalan kemanusiaan lainnya menjadi titik simpul semua orang yang berkehendak baik untuk membangun sebuah dunia yang penuh persaudaraan. Dalam dunia yang sedang sakit akibat bencana alam dan bencana kemanusiaan, yang dapat kita upayakan bersama adalah dialog kehidupan, dialog yang bebas prasangka dan melampaui segala sekat primordial yang menjadi benteng pemisah.

Gerakan bersama kita tidak lagi didasarkan pada baju agama, suku atau etnis melainkan mengabdikan diri pada kemanusiaan sebagaimana diungkapkan oleh Gus Dur bahwa tidak penting apa agamamu atau apa sukumu. Kalau kita bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah bertanya tentang apa agama kita.

Dengan demikian, kita semua dipanggil untuk menjadi penenun perdamaian, dengan menyatukan bukan memecah belah, dengan memadamkan kebencian, bukan memeliharanya. Dengan membuka jalan-jalan dialog bukan membangun tembok baru.