Toleransi Antar Umat Beragama saat Perayaan Natal

Maluku Utara merupakan daerah dengan penduduk beragama Islam terbanyak. Dikenal dengan ragam budaya, adat dan istiadatnya. Kendati demikian, perayaan hari-hari besar berjalan dengan baik dan penuh makna oleh semua pihak.
Hal ini dirasakan Grasella Ngama, seorang mahasiswa salah satu Universitas yang ada di Ternate. Ia bilang, dalam perayaan hari-hari besar, pasti ada saja yang berbeda opini, kadang ada pertanyaan yang aneh dari teman-temannya, tapi Ia hanya menanggapi dengan penjelasan yang diketahuinya.
Ia tidak pernah didiskriminasi karena kepercayaannya berbeda, tapi sering ketika ada perbedaan pendapat ia merasa harus meluruskan, tapi beberapa temannya merasa lebih tau darinya, dia tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang serius.
“Waktu baru, ditanya tentang perayaan hari-hari besar keagamaan, salah satunya natal, tara (tidak) apa-apa sih tanya, hanya saja tanya dalam bentuk opini yang ketika diluruskan itu tetap kekeh dengan dong pe (mereka punya) pandangan. Padahal kan saya yg Kristen pasti tau dong,” jelas perempuan yang biasa disapa Ge itu.
Ia menjelaskan saat ditanya pada Senin (25/11/2024) soal perayaan Natal dikampung halamannya seringkali keluarga Muslim juga ikut merayakan dan membantu memasak ketika perayaan tiba
“Beberapa keluarga dari muslim yang sering diundang di hari-hari perayaan Natal, sering jadi tukang masak. Di Ternate banyak juga teman-teman yang sering mengucapkan selamat Natal, ada juga yang batamu (bertamu) bahkan diundangan diibadah perayaan natal, contohnya BEM, atau organisasi-organisasi besar lainnya,” jelas Ge dengan antusias.
Jika ada perayaan Idul Fitri dan hari-hari besar keagamaan lainnya mereka sering memeriahkan dengan suka cita. “Tetap merayakan. Datang batamu (bertamu), atau bantu teman-teman seperti ikut berpartisipasi dalam bersih-bersih. Pokoknya banyak sih untuk saling merayakan satu sama lain”
Perayaan Natal setiap tahun, kata Ge, selalu berbeda, mulai dari tema yang diusung, tata cara yang beda, suasana ketika perayaan Natal saat dewasa juga pastinya berbeda.
“Yang paling berkesan itu waktu berkumpul dengan keluarga inti. Bersyukur tahun berganti tahun masi diberikan nafas kehidupan untuk bisa merayakan Natal dengan orang-orang terkasih, Mama, Papa dan ade-ade. Meskipun jatuh bangun, susah senang tapi masi dipertemukan kembali di hari-hari besar,” ucap Ge dengan haru.
Ritma Ibrahim, seorang mahasiswa muslim yang berdomisili di Ternate mengungkapkan ketika ada perayaan Natal Ia ikut merayakan dan merasa ikut berbahagia.
“Kalau dikasi undang yah ikut saja merayakan namanya juga lagi hari besar agama itu kan. yah ngga ada alasan untuk diskriminansi juga karena kalau kita lebaran orang-orang kristen juga mengucapkan hal yang sama,” pengkas Ritma.
Menurutnya Islam maupun Kristen sama-sama merayakan di situ letak keindahan perdamaian.
Penulis: Susi H. Bangsa